Khoirul Anam dikagetkan setalah melihat santrinya memegang aksesoris, kaset, serta buku pemahaman tentang Agama Nasrani

480

Faktual Tulang Bawang Propinsi Lampung
Saat dikonfirmasi Ustadz Khoirul Anam mengatakan, ternyata para anak didik yang semuanya beragama muslim mendapatkan barang-barang tersebut dari balai kampung setempat.

“Saya tidak masalah jika anak didik saya mendapatkan bingkisan yang isinya sandal, sepatu, atau peralatan sekolah. Namun di situ juga disisipkan kalung salib, buku pemahaman agama nasrani, cangkir bergambar salib, dan lainnya,” kata Ustadz Khoirul saat musyawarah penyelesaian permasalahan di Kantor Kemenag Tulangbawang, Jumat (8/10).

Menurutnya, sebagai guru mengaji dan seorang muslim, ia tidak bisa diam ketika anak didiknya mendapatkan bingkisan tersebut.

“Ini hak saya sebagai seorang muslim dan guru ngaji untuk membentengi anak didik dan agama Islam. Mungkin ada yang menganggap ini masalah kecil, tapi bagi saya tidak. Makanya saya banyak meminta pendapat dalam forum ini. Itulah keluhan saya sebagai guru ngaji,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Kampung (Kakam) Wonorejo Jumadi menceritakan awal mula adanya permasalahan tersebut.

Peristiwa itu bermula saat ia dihubungi Pendeta Timotius beberapa hari sebelum kegiatan pembagian bingkisan di balai kampung Wonorejo.

“Beliau mengatakan ada banyak bingkisan yang diterima oleh pihak gereja dari yayasan. Kemudian, karena jemaat gereja di kampung Wonorejo tidak begitu banyak, pak Pendeta Timotius menyampaikan usulan jika ingin berbagi kepada masyarakat sekitar,” ungkapnya.

Sebagai kepala kampung, Jumadi menyambut baik usulan Pendeta Timotius. Sebab, lanjutnya, pada tahun 2019 lalu pihak gereja juga pernah memberikan bingkisan berupa mainan anak-anak serta peralatan sekolah.

Jumbadi mangaku tidak ingin menghalangi niat baik seseorang untuk berbagi.

Pada Sabtu (2/10), pihak gereja dibantu aparatur kampung membagikan bingkisan tersebut kepada masyarakat yang membawa anak mereka berkumpul di balai kampung Wonorejo.

Sebelum kegiatan pembagian bingkisan dimulai, Jumbadi memberikan sambutan dan arahan. Ia menyampaikan kepada masyarakat yang mayoritas beragama muslim, jika tidak ingin menerima bingkisan tidak apa-apa karena itu hak masing-masing warganya.

“Saya sampaikan, jika ada sesuatu yang tidak berkenan dalam bingkisan tersebut silahkan dikembalikan. Saya tidak ingin gara-gara bingkisan ini terjadi perpecahan,” kata kepala kampung.

Jumbadi mengaku, saat itu pihaknya memang tidak melihat terlebih dahulu isi bingkisan tersebut.

“Kalau memang apa yang saya lakukan salah, saya siap menerima risiko. Saya cuma berharap toleransi umat beragama di kampung saya terjaga dengan adanya kegiatan saling berbagi,” ujarnya.

Akui Teledor, Pendeta Minta Maaf
Di tempat yang sama, Pendeta Timotius menyampaikan permohonan maaf atas keteledoran yang terjadi. Dia membenarkan semua yang disampaikan kepala kampung.

Dari awal ia menghubungi dengan niatan ingin berbagi kepada anak-anak, sampai pelaksanaan pembagian bingkisan di balai kampung.

“Dalam kesempatan ini saya memohon maaf atas keteledoran saya. Saya mengaku sebelumnya memang tidak membuka terlebih dahulu karena masih disegel. Jadi memang dibuka saat pembagian,” terangnya.

Sebelum pembagian, Pendeta Timotius juga sempat menyampaikan penekanan kepada masyarakat jika ada sesuatu di dalam bingkisan tersebut yang tidak berkenan untuk dikembalikan.

“Tidak ada niat hati mengarah ke kristenisasi. Memang klir hanya berbagi, tidak ada acara kerohanian juga dalam kegiatan tersebut. Saya memohon maaf kepada masyarakat, ini kekhilafan saya dan akan menjadi pembelajaran yang berarti untuk saya,” jelasnya.

Turut hadir dalam acara tersebut, Ketua MUI Tulangbawang, perwakilan FKUB, Ormas Muslim, tokoh agama, tokoh masyarakat, unsur TNI, Sekcam Penawaraji, serta pihak terkait lainnya.(Muh)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.