Lurah Daya Murni Tak Tahu Soal Raskin

236
Tubabar, faktual media.co-Lurah Dayamurni, Kecamatan Tumijajar, Kabupaten Tulangbawang Barat
(Tubabar), Provinsi Lampung, Yusuf mengaku tidak mengetahui nama-nama
warganya yang menerima beras warga miskin (raskin) termasuk yang
mendapatkan jatah ganda.
Menurutnya, raskin tersebut kadang-kadang dirapel dua bulan sekaligus,
tergantung distribusi dari Bulok. Yang pasti setahun 12 kali mendapat jatah
raskin.
Mengenai dugaan ada warga yang menerima raskin secara ganda, dia
mengatakan, silakan tanya langsung dengan RT setempat. a�?Setelah mendengar
informasi dari Bulok, raskin A�mau keluar, saya langsung A�memerintahkan
untuk menagih. Berapa dana yang telah terkumpul langsung ditransfer, dan
tak lama raskin turun,” katanya, kemarin.
Terkait warga yang mendapatkan jatah raskin secara ganda, kata dia, karena
ada warga yang tidak mau lagi menerima raskin, A�makanya dialihkan kepada
yang mau menebus. a�?Tidak mungkin beras sudah keluar namun tidak dibayar,
koordinatornya yang rugi nanti. Untuk lebih jelas tanyakan langsung dengan
A�RT,” katanya.
Sementara itu RT setempat, Untung mengatakan, pembagian raskin tersebut
telah mendapat kesepakatan lurah dan setia kepala keluarga (KK) mendapatkan
5 kg dengan biaya Rp12 ribu.
a�?Kami yang di bawah hanya nurut, data-data khususnya RT 02 Lingkungan 06
dari saya. Itu pun yang mendapatkan bergilir, rata-rata yang mendapatkan
wara tidak mampu.” Katanya.
a�?Bagi yang kurang mampu kami bagi, sedangkan sudah mampu kami lewati dan
kami kasih bulan depan bergilir. Data warga yang mendapatkan 36 orang,a�?
ujarnya.
Sementara itu, data dari lapangan ternyata hanya 35 KK yang mendapat
raskin. a�?Mungkin ada yang tidak menebus karena sudah mampu. Kalau tidak
salah yang tidak mau itu Ny. Cas alias Triyoni. Dan yang mendapat jatah
ganda Bowo dengan raskin 10 kg,a�? ujarnya.
Sebelumnya, seorang janda, warga RK 6/RT 2, Kelurahan Dayamurni, Kecamatan
Tumijajar, Kabupaten Tulangbawang Barat (Tubabar), Provinsi Lampung,
mengeluh lantaran tidak mendapat jatah rastra (beras pra sejahtera).
a�?Sudah lama saya menjada sampai sekarang. Saya punya cucu dan baru 3 kali
saya dapat jatah rastra. Itupun waktu RT yang lama. Semenjak pergantian RT,
saya sudah hampir 4 tahun ini tidak pernah dapat lagi.Rumah saya tidak
punya sekarang ini saya menumpang kepada anak-anak,a�? ujar janda tersebut,
Senin (4/12).
a�?Saya melihat beras jatah itu terbagi juga pada orang-orang yang sudah
mampu perekonomiannya, sedangkan saya hanya profesi sebagai tukang urut
tidak dapat. Jika ada pasien urut baru saya dapat duit tapi kalau tidak ada
yang urut, saya tidak ada duit,a�? ujarnya.
a�?Dulu, waktu saya dapat jatah, saya hanya membayar Rp12 ribu untuk 5 kg.
Saya berharap pak Lurah dan pak RT membantu saya,a�? ujarna.
Saat awak media ingin mengkonfirmasi ke RT setempat, pihak yang berkaitan
tidak ada di tempat. (her)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.